Bertemu ”Kakek Bodoh”


Aku sebenarnya penduduk asli Pandaan yang lama terdampar di Surabaya, dan bersama keluargaku hari ini aku kembali mengunjungi Wahana Wisata di kawasan Tretes  yang sudah lama populer, aku ingin tahu bagaimana kabarmu  sekarang ”Kakek Bodoh”?

Alat transportasi menuju Wahana Wisata Kakek Bodo ini mudah, bisa menggunakan angkutan umum jurusan Tretes untuk menuju kesana atau menggunakan kendaraan pribadi.

Di pintu masuk aku dan anakku sudah disambut sangkar satwa liar, ular sanca dan burung gagak,  sedikit seram, tapi anakku tertawa riang, dipikirnya ini Kebun Binatang. Melongok ke bawah pagar pembatas aku melihat ada kolam renang disana.Ternyata ada yang baru, atau aku yang baru tahu?

Tiket parkir di Hari Minggu Rp.4000, tiket masuk Rp 6000,-/orang, dan tiket renang Rp 5.000,-/orang. Kondisi cuaca sedikit tidak bersahabat, mendung tapi belum turun hujan, aku, suamiku dan anakku melanjutkan perjalanan, ketemu dengan monyet, yang berkeliaran bebas di atas pohon bahkan dengan tanpa perasaan mengencingi pengunjung di bawah pohon yang sedang berjalan, benar-benar tidak sopan. Tapi biarlah si monyet bahagia karena bisa bebas berkeliaran daripada ular Sanca yang terkurung dalam sangkarnya di pintu masuk tadi, bukankah setiap makhluk hidup berhak bahagia? Tapi sepertinya para pengunjung harus waspada, bukan hanya melihat ke bawah saja tapi juga ke atas pohon siapa tahu Simon ( baca = Si Monyet ) sedang buang hajat .

500 meter perjalanan yang aku tempuh bersama keluargaku untuk bisa sampai ke air terjun Kakek Bodo. Kondisi jalan tampak basah sedikit mengkhawatirkan karena harus naik turun, sepertinya akan lebih mudah kalau pengunjung menggunakan sandal jepit atau sepatu kets. Tapi untuk yang mudah lapar atau haus, sepertinya tidak perlu khawatir karena di sepanjang jalan tersebut banyak orang jualan snack, bakso dan minuman. Untuk yang mudah lelah, contohnya aku, banyak bangku berjajar sepanjang jalan, bahkan ada beberapa taman dengan tempat duduk ayunan di sana.

Tepat di depan makam Kakek Bodo, hujan turun. akhirnya aku dan keluargaku berteduh disana, di tempat itu ada seorang Ibu muda dengan bayi yang berusia 11 bulan dalam gendonganya, lalu disampingnya ada gadis muda yang masih kelas 1 SMP, namanya Bu Siti, dia adalah pengganti juru kunci Kakek Bodo yang sudah meninggal, seminggu sekali Ibu Siti membersihkan makam Kakek Bodo, sekaligus berjualan disana. Dari Ibu Siti ini aku banyak mengetahui kejadian apa saja yang terkait dengan Kakek Bodo. Diantaranya adanya kejadian gadis berusia 17 th yang hanyut gara-gara mandi di air terjun Kakek bodo pada Idul Adha lalu tepat di hari sabtu sore. Sebelumnya gadis ini sudah diperingatkan untuk tidak mandi di air terjun karena sedang hujan, memang aku sempat melihat papan peringatan “Hati-hati musim hujan banjir dadakan”, tapi gadis ini tidak menggubris peringatan tersebut. Akhirnya hanyut dan meninggal. Selain waspada terhadap banjir ketika musim hujan, pengujung ketika menuju ke air terjun sebaiknya juga tidak lupa membawa jas hujan, terutama untuk anak-anak, dan kantong plastik untuk melindungi barang-barang yang dibawa supaya tidak basah.

Selama ini, aku tidak pernah memperhatikan seperti apa sebenarnya sejarah dari Kakek Bodo ini. Karena penasaran, suamiku membaca sejarah Kakek Bodo yang tertera di tembok makam, diceritakan pada masa pemerintahan Belanda dahulu, ada pembantu pemerintahan Belanda yang meninggalkan pekerjaanya, untuk bertapa di bawah air terjun, orang ini terkenal soleh dan sakti, dengan kelebihanya tersebut, orang ini banyak membantu penduduk, karena marah dan kecewa merasa dikhianati, maka Belanda menyebutnya “KAKEK BODOH”. Kebaikan Kakek ini membuatnya disanjung penduduk sekitar, ketika meninggal Kakek tersebut dimakamkan disana, dan setiap Hari Kamis Malam Jum’at penduduk menghormatinya dengan membuatkan tumpeng. Ternyata tidak semua yang disebut bodoh benar-benar bodoh. Dan aku harus berhati-hati sebelum menganggap atau menyebut orang lain bodoh.

100 meter setelah makam Kakek Bodoh pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan segar air terjun yang indah. Disinilah biasanya tujuan utama para pengunjung untuk datang ke Wahana Wisata yang dikelolah pihak Perhutani ini.

(Dikirim oleh : Umu Suwaibah, Pandaan. 18/04/2010)

    • Si Paijah
    • Mei 29th, 2010

    saya juga nggak tahu lo bro , terima kasih infonya

    • Si Paijah
    • Mei 29th, 2010

    saya juga baru tahu sejarahnya bro, wah padahal saya lahir di sini lo

  1. sebenarnya, namanya tuh ‘kakek bodoh’ apa ‘kakek bodo’ ya??

    • Kakek Bodo nama pariwisatanya mas,
      Kakeh Bodoh dipakai disini sbg judul dan sebutan tokohnya saja..
      hehe..

      • ooo… gitu. betewe, saya cewek bukan cowok😛
        salam kenal sesama penghuni pandaan

  2. owh.. maaf.. hehe..
    saya kira cowok..
    wah ternyata di pandaan banyak blogger ya..
    salam kenal juga..

    • fielien
    • September 21st, 2012

    thanks atas infonya, ngomong-ngomong terbentuknya air terjunnya sendiri bagaimana?

  3. cok gatel

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: